Pada tahun 2002 di harian Italian Post , muncullah iklan pencarian orang yang teristimewa. Berikut kisahnya :
17
Mei 1992 di parkiran mobil ke- 5 Wayeli , seorang wanita kulit putih
diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita
melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya
tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini.
Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia (kanker darah). Dan ia
memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.
Ayah
kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap
agar pelaku pemerkosaan pada waktu itu saat melihat berita ini,
bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.
Berita
pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang
membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul
Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar, Jika ia berani
muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak
kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam,
ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini akan berakhir
bagaimanakah ?
Seorang
anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah
yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha, 35 thn, adalah
wanita yang menjadi pembicaraan semua orang.
Ia
dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua
anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik
perhatian setiap orang di sekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya
tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan
kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan
seperti ini
Musim
gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam
tinggi. Terakhir , Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia.
Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang
yang paling cocok untuknya. Dokter menjelaskan lebih lanjut.
Diantara
mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling
mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga
kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.
Raut
wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani
pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu
mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok
sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang
paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi.
Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha
tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara Tuhan. . kenapa
menjadi begini ?
Ia
menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa.
Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan
pada mereka, saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk
menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap
bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini
hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung
begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, Biarkan kami memikirkannya
kembali.
Malam
kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang
kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit
bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata
serius pada dokter. Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi
harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan
rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun. Dr. Adely menganggukkan
kepalanya.
Itu
adalah 10 tahun lalu, bulan Mei tahun 1992. Waktu itu anak kami yang
pertama, Eleana telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah
restoran fast food. Setiap hari pukul 10 malam baru pulang kerja. Malam
itu, turun hujan lebat. Saat Martha pulang kerja, seluruh jalanan telah
tiada orang satupun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai lagi.
Martha
mendengan suara langkah kaki, dengan ketakutan memutar kepala untuk
melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang
tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga
pingsan, dan memperkosanya. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah
dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu
aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat
perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami
hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya
seluruh langit runtuh.
Bicara
sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali
. Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat
ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang
hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih
mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi
kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. Maret 1993,
Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu
putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan.
Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi
bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa.
Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.
Mata
Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa
bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal
yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan
kepala berkata Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak
sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika.
Beberapa
lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata Kelihatannya, kalian
harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau
sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok untuk Monika. Tetapi,
apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan
kalian ?
Martha
berkata : “Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia
bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya. Dr.
Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. Berita pencarian
yang istimewa ini mengakibatkan banjir pedonor sumsum tulang belakang.
Terlebih
lagi lewat waktu begitu lama, mau mencari sang pemerkosa di mana Martha
dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan
memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran.
November 2002, di koranWayeli termuat berita pencarian ini, seperti
yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan
waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak
perempuan penderita leukimia !
Begitu
berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak
surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat
masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini
Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan
padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, iatak ingin
mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas
Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.
Saat
ini juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita
ini berakhir. (surat kabar Roma) Komentar dengan topik : Orang hitam
itu akan munculkah ? Jika orang hitam ini berani muncul, akan
bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya Akankah menggunakan
hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan
cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena
keberaniannya hari ini ? (Surat kabar Wayeli) manulis topik Bila Anda
orang berkulit hitam itu, apa tindakan yang Anda lakukan? sebagai bahan
diskusi. Dan menarik berbagai pendapat akan sulitnya berada di dua
pilihan ini. Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha,
memberikan laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada RS.
Dikarenakan jumlah orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka
dalam 10 tahun terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit
hitam. Mereka berkata pada Martha : Sekalipun beberapa orang bukanlah
terhukum karena tindak perkosaan, tapi mungkin beberapa juga menemui
hal seperti ini.
Beberapa
orang ini juga sebagian telah keluar penjara, sebagian lainnya masih
berada di dalam penjara. Martha dan Peterson menghubungi beberapa orang
ini, begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh dan
antusias untuk memberikan petunjuk.
Tapi
sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu
itu. Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan,
tak sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli
mereka berkulit hitam maupun berkulit putih, mereka semua bersukarela
mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap
dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi tak satupun pedonor yang
memenuhi kriteria di antara mereka.
Berita
pencarian ini mengharukan banyak orang, tak sedikit orang yang
bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk
mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin
lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan
sumsum tulang belakang.
Hal
yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini menyelamatkan
banyak penderita leukimia lainnya, sayangnya Monika tak termasuk
diantara mereka yang beruntung. Martha dan Peterson menantikan dengan
panik kemunculan si kulit hitam. Akhirnya dua bulan telah lewat, orang
ini tak muncul-muncul juga. Dengan tidak tenang, mereka mulai
berpikir,mungkin orang hitam itu sudah telah meninggalkan dunia ini
Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya. Sudah sejak
lama tak berada di Itali. Mungkin ia tak bersedia merusak kehidupannya
sendiri, tak ingin muncul.
Tapi
tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak
rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu. Disaat
sebuah jiwa merana tak menentu, harapan selalu disaat keputusasaan
melanda kembali muncul.
Saat
itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan
perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia
seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki
lembaran tergelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia
adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka,
Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring
panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak iamasih muda,
ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak
dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri
bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari
orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang
selalu mendiskriminasikannya.
Tak
peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei
1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja
lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah
kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya,
memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul
sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah
kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih.
Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia
bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian,
ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.
Tapi
selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga
ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju
Napulese, meninggalkan kota ini. Di Napulese, ia bertemu
keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran
milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi
kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan merka, Lina, dan
pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa
tahun ini, iayang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko
minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu.
Dimata
pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang
baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap
membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.
Ia
selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita
yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram.
Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.
Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus
mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud.
Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu
mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara
dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.
Hari
itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no. Telepon Dr. Adely.
Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah
menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia
mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya
ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan
keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan
penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan
ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun. Malam itu, saat makan bersama,
seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata :
“Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian”. Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan :Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?
“Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian”. Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan :Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?
Sedikitpun
aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan,
kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia
benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut ! Ia
benar-benar seorang pengecut ! demikian istrinya menjawab dengan
dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan
kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun
begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan
kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata :”Kau ayah
yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi
ayahku”. Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk
erat-erat sang anak dan berkata : “Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi.
Ayah yang salah, maafkan papa ya”.
Sampai
sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan
buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya : “Baiklah,
kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau
memperbaiki kesalahannya. Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa
dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang
kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia
sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak
henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : “Aku ini sebenarnya
orang baik, atau orang jahat ?” Mendengar bunyi napas istrinya yang
teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari
kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan
adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan
menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak badan
untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan
menyapanya ramah : “Selamat pagi, manager !” Mendengar itu, wajahnya
tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu
dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.
Setelah
berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam
saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga
suaranya supaya tetap tenang : “Aku ingin mengetahui keadaan anak
malang itu. Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah.
Dr. Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata :”Entah apa ia dapat
menunggu hari kemunculan ayah kandungnya. Kalimat terakhir ini
menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai
sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah
dagingnya sendiri ! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia
telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya
meneruskan kesalahan ini.
Malam
hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk
memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata :
“Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika, Aku harus
menyelamatkannya Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar
semuanya, ia berteriak marah :”Kau PEMBOHONG !”
Malam
itu juga iamembawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah
ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan
kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua
orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya :”Memang
benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa
lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya
untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar.
Hal
ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah
kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi
kini bersedia memperbaiki dirinya Ataukah seornag suami yang selamanya
menyimpan kebusukan ini didalamnya ?” Mendengar ini Lina terpekur
beberapa lama. Pagi-pagi di hari keuda, ia langsung kembali ke sisi
Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina
menetapkan hatinya berkata :”Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku
akan menemanimu !”
3
Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8 Februari,
pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA
Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha
mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani
memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh
tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat
ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam
keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha,
pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada
media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka
hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.
Berita
ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus
menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat
menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus
penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat :”Barangkali ia pernah
melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !”
10
Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu
muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui
mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini.
18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha
bertemu langsung dengan Ajili.
Ajili
baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya
terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya
melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan
masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan
kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir.
Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata : “Maaf. .
.mohon maafkan aku !” Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama
10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya
langsung kepadamu. Martha menjawab :”Terima kasih kau dapat muncul.
Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat
menolong putriku”.
19
Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili.
Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang
dokter berkata dengan antusias : “Ini suatu keajaiban !”
22
Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya
terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada
akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian,
Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami
memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr.
Adely datang ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili
tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam
suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata :“Aku tak
ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika
berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian
menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha
sekuat tenaga untuk membantu kalian”. Saat ini juga, aku sangat
berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah
yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku
dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di separoh usiaku
selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !
Sumber : http://pempeknyonya.com







0 komentar:
Posting Komentar